Mengenal Lebih Dekat Kebijakan Makroprudensial

Mengenal Lebih Dekat Kebijakan Makroprudensial

 

 

Poto Bersama Dosen FPEB, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Narasumber Kuliah Umum Retno Ponco Windarti sebagai Pimpinan Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia

Pada 27 Februari 2017, Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan kuliah umum yang diberi tema “Mengenal Lebih Dekat Kebijakan Makrorudensial” yang diselenggarakan di Ruang Auditorium Lantai 6 Gedung FPEB UPI. Kuliah Kuliah umum kali ini dihadiri mahasiswa dari empat universitas yang ada di Bandung yaitu Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Padjadjaran (UNPAD), Institut Teknologi Bandung (ITB) dan UIN Syarif Hidaytullah Bandung. Sebelum masuk pada acara pematerian, diberikan sambutan terlebih dahulu oleh Wakil Dekan I Bidang Akademik FPEB UPI yang diwakili oleh Prof. Dr. H. Eeng Ahman., M.Si., . Dalam sambutannya, beliau  menyampaikan pentingnya mahasiswa dan dosen mengetahui apa dan bagaimana Kebijakan Makroprudensial di Indonesia. Selanjutnya, dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat oleh Ismet Inono. Dalam sambutannya, Ismet Inono mengatakan bahwa sistem keuangan ini sangatlah penting bagi perekonomian. Sistem keuangan dianalogikan sebagai “udara”, dimana udara merupakan sesuatu yang sangat vital bagi suatu perekonomian. Maka dari itu, amatlah penting menjaga stabilitas sistem keuangan negara. Selain dari fungsinya, juga ketidakstabilan sistem keuangan berpotensi meningkatkan risiko perekeonomian, seperti krisis di lembaga dan pasar keuangan yang selanjutnya akan berdampak signifikan terhadap perekonomian negara.

Adapun penyampaian materi oleh Retno Ponco Windarti sebagai Pimpinan Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, dengan dimoderatori oleh Prof. Dr. H. Eeng Ahman., M.Si. Penyampain materi sekaligus tanya jawab berlangsung selama dua jam. Tampak para mahasiswa sangat antusias mendengarkan pematerian dari narasumber dan aktif dalam mengajukan pertanyaan.

Memasuki pemaparan materi, Retno menjelaskan bagaimana krisis yang terjadi di Indonesia Tahun 1998 dan Krisis di Amerika Tahun 2008 yang terjadi akibat adanya kegagalan kebijakan makro, kegagalan pasar, dan kegagalan regulasi yang telah memberikan dampak yang luar biasa bagi sistem keuangan di Indonesia. Lebih lanjut Retno menjelaskan bahwa dampak dari krisis tersebut bisa menyebabkan resiko sistemik bagi perekonomian khususnya bagi sektor keuangan. Oleh karena itu,  untuk mencegahnya maka sejak Tahun 2007 BI berupaya menjaga stabilitas sistem keuangan di Indonesia melalui dua pendekatan, yaitu Pendekatan melalui Kebijakan Makroprudensial dan Kebijakan Mikroprudensial. Menurut Retno, Kebijakan Mikroprudensial lebih berfokus pada kesehatan institusi keuangan secara individual dan Kebijakan Makroprudensial fokus pada kestabilan sistem keuangan dengan cara mitigasi risiko internal sistem keuangan dan kecenderungan perilaku Procyclical (secara keseluruhan/agregat). Jadi, menurut Retno Kebijakan Makroprudensial merupakan kebijakan yang ditujukan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan, termasuk dengan memperkuat ketahanan sistem keuangan dan mengurangi penumpukan resiko sistemik, sehingga memastikan keberlanjutan kontribusi sektor keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Dalam pemaparannya, Retno juga menjelaskan mengenai stabilitas sistem ekonomi menurut European entral Bank Tahun 2011 yaitu suatu kondisi dimana sistem keuangan yang terdiri dari lembaga intermediasi, pasar keuangan dan infrastruktur pasar, tahan terhadap tekanan dan mampu mengatasi ketidakseimbangan keuangan yang bersumber dari proses intermediasi yang mengalami gangguan secara signifikan.

(Neni Sri Wulandari, S.Pd., M.Si. Poto : Jemi Angga Ruhiat)

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.