Landasan perancangan kurikulum
Landasan Dan Prinsip Kurikulum
Kurikulum Program Magister Manajemen (MM) dikembangkan dengan mengacu pada berbagai landasan yaitu
landasaran filosofis, landasan psikologis, landasan sosial dan landasaran yuridis dengan penjelalsan sebagai
berikut:
1. Landasaran filosofis
Pengembangan kurikulum pendidikan di Indonesia memiliki tujuan ontologis yang penting, yaitu membantu
peserta didik untuk lebih memahami dan menghargai keberagaman budaya serta konsep pluralisme dalam
keragaman itu sendiri. Melalui kurikulum, diharapkan peserta didik dapat menyadari makna dari kesatuan
dalam keragaman budaya yang ada di Indonesia. Tujuan ini mencakup pemahaman tentang pentingnya hidup
berdampingan secara harmonis dalam masyarakat yang beragam, serta bagaimana keberagaman budaya
dapat menjadi kekuatan dalam memperkaya pengalaman hidup.
Selain itu, kurikulum pendidikan di Indonesia juga dirancang untuk mengembangkan karakter peserta didik
berdasarkan nilai-nilai Pancasila, seperti keadilan, persatuan, demokrasi, dan kemanusiaan. Melalui
penerapan nilai-nilai tersebut, diharapkan peserta didik dapat tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang
memiliki kesadaran moral dan etis yang kuat. Kurikulum ini bertujuan untuk membentuk karakter yang kokoh
pada peserta didik agar mereka dapat berperan aktif dan bertanggung jawab dalam berbagai aspek kehidupan
sosial dan politik di masa depan.
Lebih lanjut, kurikulum harus mencakup materi yang memungkinkan peserta didik untuk memahami budaya
lokal, tradisi adat, serta kearifan lokal yang merupakan bagian integral dari masyarakat Indonesia. Pendidikan
tentang budaya lokal ini penting untuk menjaga dan melestarikan tradisi serta kearifan yang telah ada sejak
lama. Kurikulum perlu memastikan bahwa peserta didik mendapatkan pengetahuan yang mendalam mengenai
budaya dan tradisi yang ada di sekitar mereka, sehingga mereka dapat menghargai warisan budaya bangsa.
Selain aspek budaya dan karakter, kurikulum juga harus memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk
memahami peran mereka sebagai warga negara Indonesia yang bertanggung jawab. Kurikulum perlu
mencakup pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan
sosial, politik, dan ekonomi negara. Hal ini bertujuan agar peserta didik dapat mengambil peran aktif dalam
membangun dan memajukan masyarakat serta negara.
Terakhir, kurikulum pendidikan harus melibatkan pendidikan lingkungan yang membantu peserta didik
memahami hubungan antara manusia dan alam serta pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.
Pendidikan lingkungan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran peserta didik tentang dampak tindakan
manusia terhadap lingkungan serta memotivasi mereka untuk berkontribusi dalam upaya pelestarian
lingkungan. Selain itu, kurikulum juga harus mencakup pendidikan agama dan moral yang mendalam, agar
peserta didik dapat tumbuh secara spiritual dan memahami nilai-nilai etika yang mendasari keberadaan
manusia.
2. Landasan Psikologis
Landasan psikologis dalam pengembangan kurikulum pendidikan berfokus pada dua aspek utama yang sangat
penting, yaitu bagaimana mahasiswa dapat berkembang sebagai individu serta cara-cara yang efektif untuk
proses pembelajaran mereka. Dalam konteks Program Magister Manajemen, mahasiswa merupakan individu
dewasa yang memiliki karakteristik belajar yang berbeda dibandingkan dengan anak-anak. Oleh karena itu,
memahami ciri khas pembelajaran orang dewasa menjadi kunci dalam merancang strategi
pembelajaran yang tepat dan efektif bagi mereka. Pendekatan psikologis dalam kurikulum ini
mengintegrasikan berbagai teori seperti behavioristik, kognitif, humanistik, dan konstruktivistik, yang masing
masing menawarkan metode berbeda untuk mendukung proses pembelajaran yang optimal.
Pendekatan kognitif dalam kurikulum bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis, analisis, dan
kreativitas mahasiswa. Melalui metode seperti diskusi, penugasan, dan pemecahan masalah, pendekatan ini
dirancang untuk merangsang kemampuan berpikir mahasiswa secara mendalam. Diskusi memungkinkan
mahasiswa untuk saling bertukar ide, sementara penugasan dan pemecahan masalah mendorong mereka
untuk menerapkan pengetahuan dalam situasi praktis. Dengan cara ini, mahasiswa diharapkan dapat
mengembangkan keterampilan berpikir yang diperlukan untuk menyelesaikan berbagai tantangan akademik
dan profesional.
Sementara itu, pendekatan humanistik berfokus pada pengembangan potensi individu mahasiswa dengan
memberikan perhatian pada motivasi, kebutuhan, dan pengalaman emosional mereka. Pendekatan ini
bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pertumbuhan pribadi mahasiswa dengan
menerapkan metode pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa itu sendiri. Melalui pendekatan ini,
diharapkan mahasiswa dapat mengalami proses belajar yang lebih personal dan relevan dengan kebutuhan
serta tujuan pribadi mereka.
Selain pendekatan kognitif dan humanistik, pendekatan konstruktivistik juga memegang peranan penting
dalam kurikulum. Pendekatan ini menekankan pentingnya peran aktif mahasiswa dalam membangun
pengetahuan mereka sendiri melalui eksplorasi dan interaksi dengan lingkungan belajar. Dalam kerangka
konstruktivistik, mahasiswa didorong untuk mengeksplorasi materi secara mandiri, berinteraksi dengan
sumber belajar, serta merefleksikan pengalaman mereka untuk membentuk pemahaman yang lebih
mendalam. Dengan mengintegrasikan eksplorasi dan refleksi, pendekatan ini membantu mahasiswa dalam
proses pembelajaran yang bersifat konstruktif.
Secara keseluruhan, kombinasi dari berbagai pendekatan psikologis ini bertujuan untuk menciptakan
kurikulum yang tidak hanya efektif dalam menyampaikan pengetahuan tetapi juga mendukung perkembangan
pribadi mahasiswa. Pendekatan-pendekatan tersebut bekerja sama untuk memastikan bahwa mahasiswa
dapat berkembang secara optimal baik dari segi kognitif maupun emosional. Dengan menerapkan teori-teori
seperti behavioristik, kognitif, humanistik, dan konstruktivistik, kurikulum diharapkan mampu memenuhi
kebutuhan pembelajaran mahasiswa dewasa secara menyeluruh.
3. Landasan Sosial
Landasan sosial dalam pengembangan kurikulum berfokus pada pemahaman dinamika masyarakat saat ini
serta prediksi mengenai arah perkembangan sosial di masa depan. Untuk merancang kurikulum yang relevan
dan efektif, penting untuk mengidentifikasi berbagai aspek sosial yang mempengaruhi proses pembelajaran,
seperti dimensi sosial budaya, ekonomi, agama, politik, dan keamanan. Di Indonesia yang kaya akan
keragaman kultur dan etnis, kurikulum program Magister Manajemen harus dirancang untuk mencerminkan
keberagaman ini agar semua mahasiswa merasa dihargai dan diwakili dalam proses pembelajaran. Perubahan
nilai-nilai sosial seperti kesetaraan gender dan kesadaran lingkungan juga perlu diperhatikan, dengan bahasa
sebagai salah satu elemen kunci dalam budaya yang memengaruhi cara siswa
belajar dan berinteraksi di kelas.
Selanjutnya, kurikulum harus memperhatikan bagaimana budaya dan teknologi mempengaruhi cara
masyarakat berinteraksi dan mengembangkan keterampilan sosial. Integrasi teknologi digital dalam strategi
pembelajaran sangat penting untuk mengikuti tren masyarakat saat ini, sedangkan pendekatan pembelajaran
yang mendukung pengembangan keterampilan sosial dan emosional mahasiswa juga harus diprioritaskan.
Kurikulum perlu mencakup aspek-aspek yang mendukung kerjasama, toleransi, serta pengembangan
kemampuan interpersonal mahasiswa. Dengan memperhitungkan budaya lokal dan tren digital, kurikulum
dapat lebih relevan dan bermanfaat bagi mahasiswa dalam konteks sosial yang berkembang.
Terakhir, kondisi ekonomi dan politik juga memainkan peran penting dalam pengembangan kurikulum. Faktor
ekonomi mempengaruhi ketersediaan sumber daya pendidikan dan relevansi kurikulum dengan kebutuhan
pasar kerja, sedangkan aspek politik dapat mempengaruhi kebijakan pendidikan yang diterapkan. Oleh karena
itu, kurikulum harus dirancang dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber daya dan kebutuhan
keterampilan yang sesuai dengan tuntutan pasar. Selain itu, penting juga untuk memperhatikan pluralitas
agama dan nilai-nilai etis dalam kurikulum untuk mendukung pemahaman yang mendalam dan toleransi antar
keyakinan. Keamanan juga harus menjadi pertimbangan, dengan memasukkan materi terkait keselamatan
pribadi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat, sehingga kurikulum dapat membekali
mahasiswa dengan keterampilan yang relevan untuk menghadapi tantangan dalam masyarakat.
4. Landasan Yuridis
Landasan yuridis dalam pengembangan kurikulum program S2 manajemen adalah sebagai berikut:
a. Khusus tentang landasan yuridis, program studi dapat memasukkan seluruh ketentuan
perundang-undangan yang tertulis di bawah ini:
1. Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
2. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
3. Undang-undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi Pasal 35 Ayat dan Ayat
(2).
4. Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan dan
Pengelolaan Perguruan Tinggi.
5. Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia
6. Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2015 tentang Kementerian Riset, Teknologi, dan
Pendidikan Tinggi
7. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 73 Tahun 2013 tentang Penerapan
KKNI Bidang Pendidikan Tinggi